2020 Poligrabs Creative Studio

  • Poligrabs Infographic

8 Perubahan Trend Infografis Selama 2014 hingga 2018

Updated: Jul 24, 2018


Perubahan trend Infografis 2014-2018

Oleh : Rolip Saptamaji


Sejak dibentuk, 4 tahun lalu, Poligrabs tumbuh dan berkembang dengan infografis. Sejak awal 2014, kami melakukan berbagai workshop, memproduksi infografis cetak dan digital, bekerjasama dengan media (Kompas Group) dan lembaga publik (Kominfo) untuk mempopulerkan penggunaan infografis. Dua tahun kemudian, penggunaan infografis sudah semakin populer mulai dari penggunaan jurnalistik, public relation pemerintah, hingga marketing.

Dua tahun terakhir banyak perubahan terjadi pada lansekap praktik infografis. Berbagai studio desain dan freelancer hingga market place design seperti Kreavi dan Get Craft gencar menawarkan infografis sebagai layanan, belum lagi berbagai aplikasi digital berbasis template memudahkan orang untuk membuat infografis tanpa pengetahuan khusus tentang desain. Lantas apa saja perubahan yang terjadi selama 4 tahun ini?.


Perubahan Lansekap Infografis

Siapa sangka, ketika pemilu 2014 berlangsung infografis menjadi produk jurnalistik tersendiri yang diminati banyak orang. Media massa mulai mengadopsi infografis, begitupun dengan konten marketing. Saat ini, infografis telah menjadi kebutuhan rutin marketing dan jurnalistik. Setiap hari selalu ada infografis baru dengan berbagai konten yang kadang tidak baru. Membludaknya infografis di internet membuyarkan ekspektasi kita tentang infografis, beberapa di antaranya memiliki kualitas konten yang rendah dan perancangan visual yang alakadarnya (sekedar teks yang dipercantik dengan foto atau icon) bahkan tidak bisa dianggap sebagai infografis. Berikut 8 perubahan lanskap trend infografis menurut catatan perjalanan kami.


  1. Dominasi smartphone, Dibandingkan dengan tahun 2014 lalu, penetrasi smartphone di Indonesia semakin tajam. Diperkirakan jumlah peredaran smartphone di Indonesia mencapai 142% dari populasi dengan pengguna internet sebanyak 143 juta user atau 54% dari populasi. Data ini menunjukkan bahwa peredaran informasi melalui internet meluas dengan cepat. Selain itu, kondisi ini memungkinkan audiens untuk mengonsumsi konten kapan pun di mana pun.

  2. Adaptasi visual pada platform media sosial terus berkembang, Media sosial semakin beradaptasi dengan konten visual. Instagram memperbarui feature-nya dengan instastory yang dapat mengkonversi traffic social media ke website atau e-commerce. Feature live feed juga sudah diadopsi oleh Youtube, Facebook, Twitter melalui Periscope dan Instagram. Format platform untuk gambar statis (foto dan grafis) pun sudah berkembang dalam bentuk slide dan dapat dikombinasikan dengan konten video. Di luar semua percepatan tersebut, saat ini gambar dan video sudah menjadi bahasa sosial yang lazim. Contohnya, penggunaan emoticon dan gif yang semakin lazim pada aplikasi chat.

  3. Adopsi visual pada penerbitan dan media massa, Bubarnya beberapa media cetak dan kemunculan media digital baru sepanjang tahun 2016-2017 di indonesia mendorong perubahan strategi publikasi besar pada media massa. Bertahap namun pasti, secara virtual semua penerbit tradisional telah menggunakan visual dalam konten mereka, termasuk infografis, gambar, video, interaktif, dan yang lainnya. Transisi media cetak ke digital juga mengakibatkan penggunaan infografis menjadi semakin masif untuk penyebaran konten atau teaser artikel.

  4. Audiens semakin melek visual, Tingginya familiaritas audiens dengan berbagai perangkat digital melatih daya serap visual audiens. Saat ini, audiens semakin mampu membedakan mana konten visual yang baik dan mana yang buruk. Selain itu, trend hoax yang beredar sepanjang tahun ini juga membuat audiens semakin jeli melihat karya manipulasi visual seperti video editing dan digital imaging.

  5. Aplikasi desain berbasis internet semakin mudah, Saat ini berbagai aplikasi freemium desain, fotografi dan videografi pada Google Playstore dan Apple Store semakin marak. Drop and drag method dalam perancangan konten visual semakin banyak digunakan melalui aplikasi-aplikasi ini. Kekurangannya adalah munculnya penyeragaman gaya desain dan rendahnya kualitas konten namun kuantitas terus meningkat.

  6. Brand semakin familiar dengan desain, Sepuluh tahun lalu, mendapatkan persetujuan rancangan visual dan harga dari para pengambil keputusan (bisnis dan pemerintahan) sangatlah sulit. Saat ini, dengan masifnya media sosial dan internet para pengambil keputusan semakin familiar dengan pentingnya visualisasi bagi brand mereka, sehingga project rancangan visual semakin banyak. Infografis, e-books, dan laporan tahunan visual, dan corporate identity menjadi keharusan yang lazim bagi bisnis dan pemerintahan.

  7. Desain mulai diadopsi pada tatanan yang lebih serius, Masifnya penggunaan desain pada konten marketing dan kampanye politik di Indonesia sejak tahun 2012 menarik penerapan desain ke dalam ranah yang lebih serius. Saat ini, visualisasi data tidak hanya merambah dunia penelitian dan korporasi, namun juga pemerintahan dan marketing. Publikasi kebijakan pemerintah pada tingkatan pusat juga menggunakan infografis dan konten visual lainnya untuk menjangkau segmen yang lebih muda.

  8. Data jadi Idola, Meningkatnya penggunaan blog, cloud system dan media sosial menghasilkan limpahan data digital. Selain itu maraknya berita palsu (hoax dan fake news) semakin meningkatkan kebutuhan orang akan data yang objektif. Kemampuan framing, memilah, menyimpulkan dan menyajikan data semakin luas dan menjadi kebutuhan, baik secara komersial, sosial maupun politik.


Di tengah percepatan teknologi informasi, perubahan lansekap bisnis tidak dapat dihindari. Terutama pada dunia content marketing ketika media dan channel distribusi berevolusi dengan sangat cepat mengubah berbagai lanskap yang sudah kita rumuskan. Kreativitas dan penguasaan metode konseptual menjadi hal yang penting untuk menghadapi perubahan ini. Tantangan aplikasi drag and drop dan market place design dapat dijadikan peluang untuk membedakan diri dengan yang lain. Oleh karena itu, kami di Poligrabs menekankan kualitas konten dan kemampuan framing, narasi data dan informasi yang tidak dimiliki oleh layanan serba instan seperti aplikasi drag and drop ataupun kreasi super cepat seperti Market Place. Setiap infografis kami selalu melalui proses check, re-check dan triple check untuk memastikan kualitas output yang membedakannya dengan infografis lain.

434 views