top of page
  • Writer's pictureRolip Saptamaji

AI Art, Tantangan baru Para Desainer dan Seniman Digital


Pemenang penghargaan seni yang membuat karya seninya dengan Midjourney AI
Jason M. Allen

Pada tahun 2022 lalu, sebuah penghargaan seni dimenangkan oleh kecerdasan buatan. Sebuah kompetisi seni tahunan,Colorado State Fair, memberikan hadiah dalam semua kategori biasa: lukisan, quilting, patung. Namun, Jason M. Allen seorang seniman dari Pueblo West, Colorado, membuat karya seninya dengan Midjourney, program kecerdasan buatan yang mengubah baris teks menjadi grafik hiper-realistis dan berhasil memenangkan penghargaan tersebut.


Karya “Théâtre D'opéra Spatial,” ini membawa pulang blue ribbon dalam kontes seniman digital baru dan menjadikannya salah satu karya buatan A.I. (Kecerdasan Buatan) pertama yang memenangkan penghargaan seni. Kejadian ini menimbulkan reaksi keras dari para seniman yang menuduhnya curang. Namun, Allen menjelaskan bahwa karyanya yang dikirimkan dengan nama "Jason M. Allen via Midjourney" dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan.


Kemenangan Allen telah membawa diskursus besar dalam dunia seni visual terutama pada seni digital tentang apakah para seniman digital akan dapat bertahan dari gempuran kecerdasan buatan. Sebagian seniman dan desainer berpikir positif bahwa AI dapat bermanfaat bagi desainer, namun sebagian lagi pesimistis. Bagi para desainer yang diterpa gempuran software desain drag and drop dan low code tools tentu saja keberadaan AI tidak dapat diremehkan, terutama ketikaCanva mengintegrasikan stable diffusion, sebuah AI text to image generator ke dalam layanannya.


Karya AI yang memenangkan penghargaan seni
Théâtre D'opéra Spatial

Berkenalan dengan AI Art


gambar AI dari Dall-E
AI Generated image by Dall-E

Kecerdasanbuatan (AI) sendiri merupakan salah satu teknologi yang semakin dominan penerapannya di berbagai bidang industri. Keberadaannya seringkali diasosiasikan dengan inovasi dan harapan masa depan manusia. Meskipun begitu, banyak ilmuwan juga mulai resah dengan pengembangannya. Pada tahun 2017 lalu, Facebook melalui Facebook AI Research Lab (FAIR), memutuskan untuk mematikan mesin kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mereka kembangkan. Keputusan itu diambil setelah AI tidak lagi menggunakan bahasa Inggris yang dimengerti manusia untuk berkomunikasi. Agen-agen cerdas buatan itu diketahui malah menggunakan bahasa baru untuk saling berkomunikasi.

Sebelumnya, Pada tahun 2016, chat bot yang ditenagai kekuatan AI bernama Tay dari Microsoft Technology and Researchdan Bing, men-tweet postingan yang berbau ofensif, rasis, dan pro terhadap Adolf Hitler. Tay, dibuat oleh Microsoft, untuk berinteraksi dengan pengguna internet di seluruh dunia. Kejadian ini menjadi sinyal yang berbahaya bagi pengembangan AI dalam berbagai bidang, terutama dalam konteks komunikasi.


Mungkin AI akan menggantikan Desainer

Hingga saat ini, masih kecil kemungkinan AI akan sepenuhnya menggantikan Desainer dan Seniman digital. Teknologi AI memang telah berkembang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan mampu menciptakan karya seni dan desain yang mengesankan, namun masih kurang kreativitas dan sentuhan manusia yang dihargai banyak orang dalam seni dan desain. Selain itu, bidang desain dan seni seringkali membutuhkan pemahaman mendalam tentang emosi dan pengalaman manusia, yang saat ini belum dapat ditiru oleh sistem AI.

Meskipun begitu, pengembangan pada aspek kognitif AI tetap membuka peluang kemampuan AI untuk meniru kemampuan berpikir manusia. AI juga memiliki kemampuan observasi yang luas dari sumber meta data yang beragam. Data yang dikumpulkan ini dapat disimpan dalam memori mereka selama waktu yang dibutuhkan dan diproses sesuai dengan permintaan atau perintah. Pada pengembangan kognitif, meta data ini dimanfaatkan untuk merespon permintaan secara cepat.



AI text to image generator tidak berpikir dengan cara yang sama dengan cara desainer atau seniman berpikir. Jika seorang seniman diminta untuk menggambar pisang dalam kotak, maka ia akan mengidentifikasi dua benda yaitu pisang dan kotak, hasilnya bisa jadi pisang dalam kotak yang transparan yang menunjukkan bangun ruang kotak dan bentuk pisang di dalamnya. Sedangkan AI tidak berpikir dengan cara itu, ketika AI diminta untuk menggambar pisang di dalam kotak maka ia akan mengidentifikasi ribuan atau mungkin jutaan gambar pisang dan kotak sekaligus kemungkinan-kemungkinan penyatuan kedua bentuk tersebut bukan dalam koridor bentuk tapi dalam koridor kode.


Perintah yang dituliskan pada platform AI text to image generator akan diproses oleh data yang sudah dilatih dan masuk ke proses deep learning dimana kode-kode pembentuk data identitas akan dipecah dan dicari kesesuaiannya dalam wilayah yang disebut sebagailatent spaceyang menghasilkan probabilitas kombinasi antara dua identitas berdasarkan kesesuaian kode pembentuknya, lalu masuk pada proses difusi untuk membentuk hasil akhirnya. Proses rumit yang melibatkan ragam data yang tidak terhitung ini hanya membutuhkan waktu 1-2 menit untuk menghasilkan sebuah karya. Oleh karena itu, peluang pengembangan sisi kognitif AI masih memungkinkannya terus menggantikan peran manusia atau bahkan menciptakan peran baru.


Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di: Hybrid.co.id

Comentários

Avaliado com 0 de 5 estrelas.
Ainda sem avaliações

Adicione uma avaliação
bottom of page