• Rolip Saptamaji

Visualisasi data dan infografis sebagai narasi visual



Pada edisi pertama Citra Wacana, kita telah membahas bagaimana visualisasi data mampu memaksimalkan potensi komunikasi data melalui visualisasi yang tepat menggunakan chart. Praktik visualisasi data menggunakan chart ini sudah sangat familiar bagi banyak orang. Namun persoalan yang sama selalu terjadi, banyak visualisasi data yang malah membingungkan ketimbang mencerahkan. Jangankan mengharapkan data menyiratkan cerita, dipahami saja sulit.


Kenapa sering gagal menemukan cerita dalam data


Perkembangan teknologi aplikasi perkantoran semakin memudahkan visualisasi data dengan ragam bentuk grafik dan diagram yang menarik sehingga banyak orang yang merasa visualisasi data bukan keterampilan khusus yang perlu dipelajari. Namun, persoalan mendasar yang dilupakan orang adalah bahwa visualisasi data dilakukan untuk tujuan komunikasi bukan tujuan dekoratif. Visualisasi data yang buruk seperti pie chart yang dipotong menjadi dua puluh bagian dapat kita temukan di berbagai dokumen resmi.


Kegagalan kita menemukan cerita dalam data bukanlah hal yang aneh, karena kita memang tidak pernah diajarkan secara khusus bagaimana menyusun cerita dari angka. Semasa sekolah kita belajar menyusun kata menjadi cerita dari mata pelajaran bahasa, kemudian mempelajari angka dari matematika, dan belajar menggambar dari mata pelajaran seni rupa. Ketiganya kita pelajari secara terpisah, sedangkan jika kita ingin bercerita dengan data maka kita harus menguasai ketiganya secara bersamaan agar data dapat diolah, disusun berdasarkan urutan prioritas, dan akhirnya disajikan dalam bentuk visualisasi data.

Bagaimana menemukan cerita dalam data

Bercerita dengan data memang tidak mudah, namun bukan tidak mungkin untuk dipelajari. Bercerita dengan data dapat dilakukan dengan diawali dengan memahami data yaitu dengan cara 4 K:


Keempat poin diatas merupakan pertanyaan mendasar ketika kita mulai menggali cerita dari data. Pemahaman lengkap terhadap data yang akan disusun sangat mempengaruhi akurasi pesan yang dirangkai dalam cerita data. Poin ketiga dan keempat merupakan poin verifikatif yang dapat menentukan relevansi data dengan pesan yang ingin disampaikan.

Setelah memahami dan mulai menggali cerita dalam data kita akan menemukan beberapa premis yang berasal dari hipotesis yang kita ambil berdasarkan relevansinya dengan pesan yang akan disampaikan. Tahapan berikutnya adalah melakukan pembersihan data, dengan cara berikut:


Bagaimana menyusun alur cerita dalam data


Setelah melakukan kedua tahapan diatas, tahapan berikutnya adalah menyusun alur cerita dan diakhiri dengan evaluasi bersama tim untuk menentukan alur dan narasi visual yang tepat. Penyusunan alur cerita dengan data dapat mengadopsi struktur formal storytelling yang dibagi menjadi 3 babak yaitu;



Penyusunan alur cerita dalam data sebenarnya sangat fleksibel asalkan dapat dibagi dalam tiga babak yang mewakili tahapan pemahaman orang terhadap pesan yang akan disampaikan. Penyampaian data secara naratif melalui visualisasi data pada umumnya digunakan untuk mengambil keputusan sehingga penyampaiannya perlu mempertimbangkan kejernihan pesan dan struktur naratif yang tidak membingungkan.


Kenapa bercerita dengan data


Bercerita dengan data memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan karena menuntut ketelitian dan kreativitas secara bersamaan. Meskipun begitu, kemampuan bercerita dengan data sangat menentukan kualitas visualisasi data, terutama jika digunakan untuk membantu pengambilan keputusan. Kemampuan bercerita dengan data sendiri merupakan kemampuan yang perlu dilatih sebagai keterampilan berpikir, karena meski aplikasi perkantoran mampu memvisualkan data dengan grafis dan diagramnya, aplikasi tetap tidak tahu caranya merangkai cerita untuk anda.