• Rolip Saptamaji

Darimana asalnya simbol hati menjadi cinta

Bulan Februari ini anda akan menemukan banyak simbol hati bertebaran di mana-mana mulai dari coklat yang anda terima dari orang terkasih, hingga interior coffee shop yang anda singgahi.

Meski anda tidak merayakan valentine, serbuan visual simbol hati tetap akan mengelilingi anda di bulan ini. Namun, pernahkah anda bertanya sejak kapan simbol hati merepresentasikan cinta yang romantis bahkan meluas menjadi representasi emosi kasih sayang yang abstrak. Asosiasi bentuk hati dengan emosi ini tidak terjadi begitu saja, melainkan berkelit dan berkelindan dengan sejarah pembelajaran visual dalam peradaban manusia hingga akhirnya menjadi simbol yang universal.



Anehnya, kita tahu bahwa cinta dan seluruh emosi tidak terjadi di hati melainkan pada otak kita. Bagi orang indonesia assosiasi ini mungkin lebih aneh lagi karena hati adalah organ dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai penawar racun dari makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari. Bagi orang yang berbahasa Inggris, hati (heart) juga diartikan sebagai jantung yang berfungsi mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Jelas sudah emosi tidak muncul pada kedua organ tersebut, karena emosi adalah bagian dari fungsi sensorik otak.


Namun, dalam sejarah peradaban manusia banyak peradaban yang menggambarkan hati sebagai pusat bagi spiritualitas dan emosi manusia. Pemaknaan yang serupa pada istilah “hati” ini dapat ditemukan pada peradaban Yunani, Romawi dan Teotihuacans di Mexico. Dalam sastra Indonesia dan melayu juga istilah “hati” menempati makna yang sama. Padanan istilah ini tentunya terjadi jauh sebelum valentine menjadi budaya populer yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Maka, tidak heran jika istilah “hati” memiliki asosiasi dengan cinta dan kasih sayang sebagai bagian dari emosi manusia.



Memahami asosiasi istilah “hati” dengan konsepsi “cinta” tidak lantas menggiring kita pada kesimpulan dan kesepakatan terhadap bentuk hati yang populer saat ini. Karena, jika diperhatikan lebih detail bentuk simbol hati sama sekali tidak mirip dengan organ tubuh yang dimaksud (jantung atau hati), malah lebih mirip bagian tubuh lainnya. Lantas dari mana simbol hati mendapatkan bentuk populernya yang bertahan hingga saat ini?


Ada banyak versi yang menjelaskan muasal bentuk hati pada simbol hati yang populer hingga saat ini. Namun ada dua versi penjelasan yang saling menarik untuk dibahas pada artikel ini. Versi pertama membawa kita jauh ke Libya pada era sebelum masehi tepatnya pada 510-490 SM. Jejak visual yang ditemukan dari koin drachma yang berlaku pada era Romawi kuno bergambar biji silphium yang berbentuk menyerupai simbol hati modern. Silphium sendiri dikenal memiliki khasiat kontrasepsi dan menjadi komoditas perdagangan yang menguntungkan pada era tersebut. Spekulasi bahwa simbol ini menghasilkan asosiasi antara cinta dan nafsu karena khasiat kontrasepsi silphium agak meragukan, lebih memungkinkan jika penerapan icon silphium ini karena nilai ekonominya yang tinggi pada saat itu.



Versi kedua adalah simbol hati dipopulerkan oleh Gereja Katolik pada abad ke-16 sebagai tanda yang merepresentasikan cinta yang suci. Menurut legenda, Santa Margaret Mary Alacoque melihat hati yang diikat mahkota duri ketika ia mendapat wahyu. Sejak saat itu simbol hati yang diikat mahkota duri menjadi simbol cinta suci dan dijadikan dekorasi hampir di seluruh Gereja Katolik di Eropa.


Sejak abad ke-16 penggunaan simbol hati sebagai representasi cinta semakin sering digunakan. Simbol hati dapat ditemukan pada berbagai lukisan, bross mewah, medali, ukiran pada baju zirah, gagang pedang, hingga kartu permainan, meskipun kadang tidak memiliki asosiasi dengan konsep cinta. Setelah revolusi industri dan ditemukannya mesin cetak simbol hati sebagai representasi cinta kembali populer melalui kartu ucapan valentine yang dicetak di Amerika pada tahun 1840 dan direproduksi ulang oleh Hallmark pada tahun 1913. Selain di Amerika Serikat, kartu ucapan valentine yang menggunakan bentuk hati juga dibuat di Perancis pada tahun 1900. Sejak saat itu simbol hati terus berasosiasi dengan perayaan valentine dan konsep cinta yang romantis.



Makna asosiatif simbol hati dengan konsep cinta pun terus berkembang melampaui batasan konsep cinta romantis di ujung pena seorang desainer grafis. Pada tahun 1977 Milton Glaser menciptakan logo “I love New York” menggunakan simbol hati sebagai pengganti kata cinta. Sejak saat itu simbol hati bukan lagi mewakili konsep yang abstrak tapi telah menjadi kata kerja dari cinta menjadi mencintai. Setelah menjadi kata kerja simbol ini ideografi yang dapat digunakan untuk membantu proses akselerasi komunikasi.


Terbukti pada tahun 1999, NTT DoCoMO, sebuah perusahaan provider dari Jepang memperkenalkan satu set emoji berisi 176 simbol yang dibuat untuk komunikasi mobile/seluler yang lima diantaranya menggunakan simbol hati untuk merepresentasikan emosi dari jatuh cinta hingga patah hati. Sejak saat itu penggunaan simbol hati menjadi lazim dalam format ideografi yang sering kita temukan pada berbagai platform digital termasuk pada media sosial untuk menunjukkan kita menyukai posting konten teman kita.



Saat ini, simbol hati bukan hanya menjadi representasi cinta romantis tapi telah menjadi tanda universal untuk pernyataan emosi, bahkan berevolusi menjadi kata kerja yang mewakilkan perasaan kita terhadap suatu peristiwa atau objek.


Jadi, ketika cinta mengepung anda dari segala penjuru pada bulan ini, jangan khawatir berikanlah reaksi yang tepat lewat tombol “love”.


Referensi:

https://99designs.com/blog/design-history-movements/the-history-of-the-heart/

https://ideas.ted.com/how-did-the-human-heart-become-associated-with-love-and-how-did-it-turn-into-the-shape-we-know-today/


2020 Poligrabs Creative Studio

Poligrabs adalah merek milik PT Balada Komunikasi Visual

  • Facebook
  • YouTube
  • Pinterest
  • Instagram

PT Balada Komunikasi Visual