• Rolip Saptamaji

Menyusun dan mengevaluasi narasi visual untuk media komunikasi publik



Sejak populernya media sosial menjadi media alternatif untuk informasi dan berinteraksi di dunia digital, berbagai lembaga publik baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah ikut meramaikan linimasa pada media sosial. Berbeda dengan akun pribadi ataupun brand, akun media sosial milik lembaga publik lebih berorientasi pada penyebaran konten komunikasi publik seperti sosialisasi kebijakan, hasil studi, ataupun kampanye sosial berisi himbauan.


Lembaga publik saat ini juga berlomba-lomba menghasilkan konten komunikasi publik yang dipublikasikan melalui media sosial dan kanal siar. Beberapa konten tersebut berhasil menarik perhatian publik, sementara beberapa lainnya gagal. Persoalannya adalah, banyak konten komunikasi publik yang dibuat tidak memiliki narasi visual yang baik. Bahkan seringkali visualisasi tidak merepresentasikan konten, atau bahkan konten tidak memuat pesan.


Produksi konten komunikasi publik pada lembaga publik seringkali dikelola secara mandiri oleh departemen tertentu di dalam lembaga tersebut. Namun, tim ini juga menghadapi kendala dalam merumuskan konten komunikasi publik karena intensitas komunikasi mereka baik secara pekerjaan maupun secara lingkungan yang lebih banyak berorientasi pada komunikasi internal lembaga dan komunikasi antar lembaga publik. Dampaknya ketika mereka menyusun konten untuk komunikasi publik, narasi yang dihasilkan cenderung dianggap kaku karena tidak menggunakan sudut pandang segmen target yang dituju. Selain itu penggunaan bahasa ilmiah, singkatan atau akronim internal dan penjelasan yang panjang tanpa langsung menyentuh persoalan seringkali konten komunikasi publik malah dianggap eksklusif.


Dalam perancangan narasi visual untuk media komunikasi publik, persoalan di atas dapat ditanggulangi dengan melibatkan pihak ketiga untuk produksi media. Namun, tentu saja kenali atas narasi dan visualisasi berada di tangan tim internal lembaga. Oleh karena itu, tim internal lembaga tetap membutuhkan keterampilan tambahan dalam menyusun narasi visual untuk media komunikasi publik dan mengevaluasi narasi visual yang dikembangkan oleh pihak ketiga.


Menyusun narasi visual

Narasi visual atau visual storytelling dapat juga dipahami menjadi bercerita menggunakan gambar. Persis seperti pengertiannya, narasi visual disusun dalam dua tahap, yaitu tahap naratif dan tahap visual. Pada tahap naratif, kita harus memulai dengan menyusun cerita yang memiliki alur atau plot jelas dimulai dari pesan pembuka atau pengantar, isi atau informasi utama dan diakhiri dengan penutup atau simpulan.

Tahapan ini mungkin terdengar klise, namun tahapan penyusunan cerita ini merupakan bagian paling penting dalam penyusunan narasi visual. Jika narasi dapat diselesaikan dengan baik dalam artian mampu memuat pesan dan memiliki struktur penceritaan yang mudah dimengerti, visualisasi akan lebih mudah karena sudah memiliki acuan. Bahkan, dengan cerita yang baik, kita dapat memilih berbagai media visual yang tepat sesuai fungsinya. Oleh karena itu, dalam penyusunan narasi perlu memperhatikan beberapa poin berikut;



Catatan tambahan

Selain tahapan penyusunan narasi di atas, penting juga untuk memerhatikan catatan tambahan berikut untuk menjaga kualitas narasi visual untuk komunikasi publik.

Tim komunikasi internal lembaga memiliki peran yang besar dalam perancangan media komunikasi lembaga baik pada saat pengelolaan mandiri maupun dibantu oleh pihak ketiga. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyusunan narasi visual menjadi penting untuk menjaga konsistensi pesan dengan media. Perancangan media untuk komunikasi publik memiliki pakem atau batasan-batasan eksplorasi yang berbeda dengan produksi media komersil, maka dibutuhkan kerjasama dan koordinasi yang baik antara tim komunikasi dengan tim kreatif perancang media.